Tampilkan postingan dengan label http://asetvirtual.com/?aff=agsetya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label http://asetvirtual.com/?aff=agsetya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2014

PELATIHAN CWCCA VI Solo

PELATIHAN PERAWATAN LUKA MODERN (CWCCA)
ANGKATAN VI SOLO

Ikuti Pelatihan Perawatan Luka Modern (CWCCA) Angkatan VI

Pelaksanaan :
Hari : Kamis - Minggu, 23-26 Oktober 2014
Tempat : Hotel Loji Surakarta

Investasi September Ceria : Rp. 2.700.000,-

CP. Setyawan, SKp, CWCCA (085712800971, PIN 7E53B976)


Kamis, 07 April 2011

MANAJEMEN KONFLIK

Manajemen Konflik

Definisi Manajemen Konflik
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.
Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga. Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen konflik menunjuk pada pola komunikasi (termasuk perilaku) para pelaku dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan dan penafsiran terhadap konflik.

Fisher dkk (2001:7) menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum dalam menggambarkan situasi secara keseluruhan.
* Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.
* Penyelesaian Konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui persetujuan damai.
* Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihak-pihak yang terlibat.
* Resolusi Konflik, menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan.
* Transformasi Konflik, mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.

Tahapan-tahapan diatas merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan dalam mengelola konflik. Sehingga masing-masing tahap akan melibatkan tahap sebelumnya misalnya pengelolaan konflik akan mencakup pencegahan dan penyelesaian konflik.
Sementara Minnery (1980:220) menyatakan bahwa manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan kota merupakan proses. Minnery (1980:220) juga berpendapat bahwa proses manajemen konflik perencanaan kota merupakan bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya bahwa pendekatan model manajemen konflik perencanaan kota secara terus menerus mengalami penyempurnaan sampai mencapai model yang representatif dan ideal. Sama halnya dengan proses manajemen konflik yang telah dijelaskan diatas, bahwa manajemen konflik perencanaan kota meliputi beberapa langkah yaitu: penerimaan terhadap keberadaan konflik (dihindari atau ditekan/didiamkan), klarifikasi karakteristik dan struktur konflik, evaluasi konflik (jika bermanfaat maka dilanjutkan dengan proses selanjutnya), menentukan aksi yang dipersyaratkan untuk mengelola konflik, serta menentukan peran perencana sebagai partisipan atau pihak ketiga dalam mengelola konflik. Keseluruhan proses tersebut berlangsung dalam konteks perencanaan kota dan melibatkan perencana sebagai aktor yang mengelola konflik baik sebagai partisipan atau pihak ketiga.

Teori-teori Konflik
Teori-teori utama mengenai sebab-sebab konflik adalah:
a. Teori hubungan masyarakat
Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.
Sasaran: meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok yang mengalami konflik, serta mengusahakan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada didalamnya.
b. Teori kebutuhan manusia
Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi.
Sasaran: mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, serta menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan itu.
c. Teori negosiasi prinsip
Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.
Sasaran: membantu pihak yang berkonflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap. Kemudian melancarkan proses kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.
d. Teori identitas
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan.
Sasaran: melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik, sehingga dapat mengidentifikasi ancaman dan ketakutan di antara pihak tersebut dan membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.
e. Teori kesalahpahaman antarbudaya
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.
Sasaran: menambah pengetahuan kepada pihak yang berkonflik mengenai budaya pihak lain, mengurangi streotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain, meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya.
f. Teori transformasi konflik
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi.

Jumat, 11 Februari 2011

Pelatihan PPGD RSUD Kab Sukoharjo



PROPOSAL
PELATIHAN PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT
(EMERGENCY MEDICAL TRAINING)


PENDAHULUAN
Dewasa telah terjadi pergeseran visi dalam pembangunan bidang kesehatan. Visi lama yang lebih berorientasi pada aspek “kuratif” menuju ke aspek pelayanan kesehatan yang bersifat “preventif, promotif dan proyektif” (paradigma sehat). Hal tersebut harus diantisipasi dengan menyediakan tenaga kesehatan professional yang kompeten dalam bidangnya baik dari segi kognitif, psikomotor dan afektif, misalnya dalam kegawatdaruratan.

Kenyataan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular dan cedera pada kecelakaan kerja atau kecelakaan lalu lintas telah semakin menonjol sebagai penyebab kematian di Indonesia dengan pertumbuhan 5,7% pertahun. Kematian penderita gawat darurat akan terjadi dalam waktu singkat (4-6 menit). Disamping itu, karena ketidaktahuan dan ketidaktepatan dalam memberikan pertolongan juga dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan.

Melihat kondisi tersebut, institusi pelayanan kesehatan memiliki andil besar dalam membekali karyawannya dengan kompetensi penanggulangan penderita gawat darurat. Berbagai upaya harus dilakukan untuk dapat meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam penatalaksanaan penderita gawat darurat, salah satunya adalah dengan penyelenggaraan pelatihan PPGD. Dengan dilakukan pelatihan PPGD secara periodic diharapkan akan membawa dampak pada peningkatan kualitas pelayanan di RS dalam penanggulangan penderita gawat darurat, yang akan menurunkan resiko kecacatan dan kematian.

TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengoptimalkan fungsi RSUD Kabupaten Sukoharjo dalam meningkatkan kemampuan dan ketrampilan peserta pelatihan dalam menangani dan menanggulangi penderita gawat darurat
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pelatihan ini,
a. Peserta pelatihan mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam penanganan dan penanggulangan penderita gawat darurat
b. Peserta pelatihan mampu melaksanakan tugas atau menolong penderita gawat darurat
c. Peserta pelatihan mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kegawatdaruratan di RS atau tempat kerja.
d. Mempromosikan RSUD Sukoharjo sebagai salah satu tatanan klinik pusat pengembangan ilmu kesehatan.

PELAKSANAAN
Hari : Kamis – Minggu, 24 – 27 Maret 2011
Waktu : 08.00 – 20.00 WIB
Tempat : Aula RSUD Kabupaten Sukoharjo
Jl. Dr. Moewardi No 71 Sukoharjo Jawa Tengah

MATERI
Materi yang diberikan meliputi :
1. Materi dasar : penanganan trauma, penanganan gigitan binatang, penanganan keracunan
2. Materi inti : penanganan henti nafas & jantung (RJP), penanganan shock dan perdarahan, resusitasi cairan
3. Materi penunjang : kegawatdaruratan jantung, pengenalan dan pelaksanaan EKG serta defibrilasi, penatalaksanaan jalan nafas dan intubasi

METODE
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Simulasi phantom dan probandus memakai hewan kambing untuk intubasi
4. Visualisasi materi dengan VCD

NARASUMBER
1. Tim EMS 119 Jakarta
2. Pakar Keperawatan UMS Surakarta
3. Staf Medis dan Keperawatan RSUD Sukoharjo

PESERTA PELATIHAN
1. Perawat
2. Bidan
3. Dokter
4. Mahasiswa Keperawatan, Kebidanan atau Kedokteran
Jumlah peserta dibatasi 80 orang

BIAYA PELATIHAN
Biaya pelatihan :
1. Pendaftaran 20 Januari – 15 Maret 2011 : Rp. 1.750.000,- (satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)
2. Pendaftaran setelah 16 Maret 2011 : Rp. 1.950.000,- (satu juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah)
Dibayarkan melalui Bank Jateng Cabang Sukoharjo
No. Rek 2-030-05752-2
a.n. : Ardhini Mauritania, S.Kep., Ns.

EVALUASI
1. Evaluasi peserta menggunakan ”pre-post test”
2. Ujian komprehensif teori dan praktikum di semua stase (RJP-CPR, Intubasi, EKG, Pemakaian alat emergency dan evakuasi, dan balut-bidai)

REGISTRASI
1. EMS 119
2. PPNI Pusat Jakarta
3. ARSADA (Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia) Pusat Jakarta




Program Kerja Sub Komite Pengembangan SDM

I. Standarisasi Perawat / Bidan
A. Menyusun Pola Ketenagaan dan Jenjang Karir Perawat/Bidan
Kegiatan :
- Menyusun pola ketenagaan di masing2 ruang
- Menyusun sistem jenjang karir perawat/ bidan à pelaksana, katim, karu, supervisor, kasie, kabid, ka instalasi

B. Menyusun Standar Kualifikasi/ Kompetensi Tenaga Perawat & Bidan
Kegiatan :
- Membuat standar kualifikasi perawat secara umum
- Membuat standar kualifikasi bidan
- Membuat standar kualifikasi berdasar ruangan / Staf Perawat Fungsional à sesuai peminatan & sertifikasi (Gadar & Kritis, MedSur, Anak, Maternitas, HD, OK, Jiwa, Komunitas, Bidan).

C. Menyusun Standar Kualifikasi/ Kompetensi CI
Kegiatan :
- Membuat standar kualifikasi pembimbing klinik/CI perawat
- Membuat standar kualifikasi pembimbing klinik/CI bidan.

II. Pendidikan
A. Pengelolaan Pendidikan Berkelanjutan Perawat/Bidan
Kegiatan :
- Pendataan jenjang pendidikan & sertifikasi perawat/ bidan
- Memberikan rekomendasi/ masukan kepada Bidang Keperawatan terkait penempatan perawat/bidan berbasis kompetensi
- Membantu program pend berkelanjutan perawat/ bidan
- Melaksanakan seminar, ceramah ilmiah, pelatihan dalam ranah kognitif, psikomotor dan afektif

B. Pengelolaan Pendidikan untuk Peserta Didik
Kegiatan :
- Menyusun acuan peningkatan peran CI.
- Menyusun sistem pembimbingan klinik.
- Menyusun acuan profesional & institusional fee.


III. Penelitian
A. Internal
Kegiatan :
- Melaksanakan diklat tentang penelitian bidang keperawatan/ kebidanan
- Memfasilitasi dan berperan aktif dlm penelitian keperawatan / kebidanan
- Membentuk tim riset keperawatan/ kebidanan RSUD Sukoharjo.

B. Eksternal
Kegiatan :
- Memfasilitasi dan berperan dalam penelitian keperawatan oleh Mahasiswa Keperawatan, Dosen Keperawatan, praktisi keperawatan à sbg pemberi rekomendasi, peneliti, penguji & pembimbing.

IV. Pengembangan
A. Seminar, Lokakarya, Workshop
Kegiatan :
- Mengagendakan dan memfasilitasi pengembangan SDM Keperawatan/ Kebidanan mell keikutsertaan dlm seminar, lokakarya & workshop eksternal
- Mengagendakan & memfasilitasi desiminasi hasil seminar, lokakarya & workshop eksternal

B. Pelatihan
Kegiatan :
- Mengagendakan dan memfasilitasi pengembangan SDM Keperawatan/ Kebidanan mell keikutsertaan dlm pelatihan eksternal
- Mengagendakan & memfasilitasi desiminasi hasil pelatihan eksternal


2. Menyusun sistem jenjang karir perawat/ bidan à
- Membuat SOP promosi & mutasi jenjang karir keperawatan/kebidanan
- Membuat kualifikasi pelaksana, katim, karu, supervisor, kasie, kabid, ka instalasi

Rabu, 22 Desember 2010

Alamat

www.twitter.com/agusetyawan91
www.facebook.com/agussetyawan91
www.kamahusada.blogspot.com
www.bkmsingomantra.blogspot.com
www.pertiwatui.blogspot.com
http://www.facebook.com/pages/KAMA-HUSADA-HOME-CARE-AGENCY/112031182179712
http://www.flickr.com/photos/57252128@N08/
Vaginoplasty, Bedah Area Intim Makin Diminati





VIVAnews - Bertujuan meningkatkan kehidupan seksual, makin banyak wanita di Italia menjalani vaginoplasty atau operasi mengembalikan 'elastisitas' organ intim wanita.

Sebagai bukti operasi bedah vagina makin populer, Italia menggelar kontes final Miss Bedah Kosmetik yang dijadwalkan akan digelar di Resor Pantai Adriatik Rimini, Italia, dan vaginoplasty pun menjadi bagian dari kontes ini.

Seperti dikutip dari laman Times of India, teknik peremajaan dan renovasi area intim melalui operasi laser ini, tak hanya populer di kalangan wanita yang telah memiliki anak, tapi juga para wanita lajang di Italia.

“Sekitar 50 wanita menjalani prosedur ini setiap tahun,” kata ahli bedah Alessandro Littara.

Littara menambahkan, "Prosedur ini bertujuan mengencangkan otot di sekitar area intim, sehingga wanita mampu merasa lebih percaya diri saat berhubungan seks,” ujar pria yang juga berpraktek di 3 dari 4 pusat bedah kosmetik vagina di Italia.

Meski vaginoplasty menjadi bedah kosmetik yang cukup populer, namun labiaplasty proses 'mempercantik' area intim juga tak kalah diminati. Menurut Littara, sekitar 100 wanita meminta prosedur labiaplasty setiap tahun, dengan metode injeksi atau suntikan asam ke labia eksternal vagina untuk menciptakan rasa percaya diri wanita.

"Pasien yang datang rata-rata berusia antara 25 dan 40 tahun, namun paling banyak 30-35 tahun. Sebagian besar dari mereka ingin mempertahankan pernikahan dan untuk memenuhi tuntutan pasangan," kata Littara.

Operasi labiaplasty biasanya membutuhkan biaya sekitar €5.000 (sekitar US$6.300 atau setara Rp57 juta), sedangkan biaya vaginoplasty €7000 (sekitar US$ 8800 atau setara Rp81 juta). Dua prosedur ini harus dilakukan di rumah sakit dan pasien diberi anestesi lokal oleh dokter profesional.